Akhir pekan ini menjadi momen tidak terlupakan bagi Manchester City.
Penantian panjang selama lebih dari empat dekade menghasilkan prestasi
gemilang. Musim ini, The Citizen menyandang status sebagai kampiun
Premier League.
Kepastian ini mereka dapat lewat sebuah
pertandingan menegangkan di partai puncak kontra Queens Park Rangers,
Minggu 13 Mei 2012 kemarin. Bak sebuah film aksi, kemenangan ManCity
ditentukan di masa injury-time.
Pertandingan yang diprediksi
bakal mudah dilewati ManCity ternyata tidak seperti bayangan semula.
Skenarionya mulai berubah saat QPR berhasil membalas gol Pablo Zabaleta
melalui Djibril Cisse di menit 48 untuk menyamakan kedudukan menjadi
1-1.
Cerita semakin menarik menit 66 saat striker QPR, Jamie
Mackie mencetak gol untuk membawa QPR berbalik unggul 2-1. Seisi Etihad
Stadium langsung dilanda kecemasan luar biasa. Pasalnya, di waktu
bersamaa, Manchester United masih memimpin 1-0 atas Sunderland di
Stadium of Light.
Fans fanatik ManCity mengepalkan tangan sambil
berdoa dalam hati. Dari pinggir lapangan, pelatih ManCity, Roberto
Mancini gusar. Ia berpikir keras. Sebuah keputusan diambil juru taktik
asal Italia itu. Ia mensubsitusi Garreth Barry dengan Edin Dzeko.
Strateginya
memasukkan Dzeko bisa dibaca. Menambah daya gedor timnya. Namun cara
ini belum membuahkan hasil. ManCity masih buntu untuk kembali menyamakan
kedudukan. Mancini yang melihat Carlos Tevez mulai frustasi
memanggilnya keluar dan memasukkan Mario Balotelli.
Ada sedikit
angin segar. ManCity mulai bisa membuka celah rapatnya barisan
pertahanan QPR lewat manuver Balotelli. Harapan pendukung The Citizen
akhirnya terjawab di menit 90+2. Melalui sebuah sepak pojok, David Silva
mengirim bola lambung yang berhasil disambar Dzeko.
Memanfaatkan
postur tubuh, Dzeko menanduk bola untuk merobek gawang QPR. Kedudukan
2-2 membakar semangat ManCity. Asa kembali menyala. Sadar kedudukan itu
belum bisa membawa ManCity mengunci gelar, lantaran MU masih unggul 1-0
atas Sunderland, Sergio Aguero datang memenuhi ekspektasi ManCity musim
ini.
Penyerang mungil dari Argentina itu mencetak gol penentu
lewat tendangan kerasnya di menit 90+4. Etihad Stadium seakan ingin
runtuh menyambut gol ketiga Aguero. Dua gol ManCity di masa injury time
membuat tim bertabur bintang itu mengalahkan MU dalam perburuan gelar.
Klimaksnya, saat wasit Micheal Dean meniup peluit panjang tanda
berakhirnya pertandingan.
Sejurus kemudian, lautan pendukung ManCity turun ke lapangan
mengekpresikan kebahagiaan. "Ini kemenangan luar biasa. Pemain patut
mendapatkan pujian. Saya belum pernah mendapatkan pengalaman seperti
ini. Luar biasa. Kami memiliki banyak peluang dan tidak pantas kalah.
Ini musim luar biasa bagi kami dan suporter setelah 44 tahun. Musim yang
gila! bahkan hingga menit terakhir," teriak Mancini.
Di tempat
terpisah, Sir Alex Ferguson angkat topi untuk sang tetangga yang
berhasil merebut trofi Premier League dari tangan MU musim ini. Secara
sportif, dia memberikan selamat untuk ManCity.
"Saya ingin
menyampaikan, selamat kepada tetangga kami. Ini pencapaian fantastis
bisa meraih kemenangan di Premier League. Ini liga paling sulit di
dunia. Siapa pun pemenangnya, pantas mendapatkan hal itu (ucapan
selamat)," ujar Ferguson dikutip dari Skysports.
Akhir penantian panjangKeberhasilan
ManCity ini sekaligus mengakhiri penantian panjang 44 tahun. Terakhir
kali, ManCity merasakan euforia ini pada 1967-68. Saat itu, kompetisi
Premier League masih bernama Football League.
Identik dengan sekuel 2011-12 ini, mereka juga berhasil memaksa sang
tetangga Manchester United bertekuk lutut. ManCity keluar sebagai juara
mengemas 58 poin dari 42 pertandingan (saat itu kompetisi Premier League
diikuti 22 tim) terpaut 2 angka dari MU yang berada di posisi runner-up
mengemas 56 poin hasil dari 42 pertandingan.
Bisa dibayangkan,
betapa antusiasnya sang skipper, Vincent Kompany yang berhasil memimpin
rekan-rekannya meraih gelar di era Premier League modern. Suka cita
ManCity semakin istimewa karena produktivitas gol mereka lebih baik dari
seterunya. Salah satu syarat untuk merebut trofi lambang supremasi
sepakbola Inggris.
“Kami memimpikan hal ini sepanjang karier
kami. Sekarang kami juara Premier League. Bisa melihat kebahagiaan fans
suatu kehormatan bagi saya. Mereka membuat ini terjadi, luar biasa.”
seru pemain asal Belgia tersebut.
City beli gelar?Hasil
akhir musim ini setidaknya mencuatkan pertanyaan besar. Apakah ManCity
sukses membeli gelar? Sejak kedatangan Sheikh Mansour ke Etihad Stadium
2008 silam, investasi yang ditanamkannya memang tidak sedikit. Ia royal
mengucurkan uang dalam nominal besar untuk mendapatkan pemain bidikan.
Taipan
Abu Dhabi itu bernafsu mengumpulkan pemain bintang. Geliat ManCity di
bursa transfer selalu mendapat sorotan. Tim yang berbasis di Eastlands
itu seakan tidak bermasalah dengan dana. Kemampuan finansial mereka
seperti tanpa batas, membuat ManCity berkemilau.
Daya beli
ManCity sukses menarik perhatian pemain bintang tim papan atas Eropa.
Berlimpah pemain dengan kualitas mumpuni membuat ManCity mulai
diperhitungkan di jagat sepakbola Inggris dan Eropa.
Memasuki
musim 2011-12, ManCity menjadi tim dengan anggaran belanja pemain
terbesar di Premier League. Jumlahnya mencapai €82 juta. Dengan nominal
lebih dari 1 T, ManCity berhasil menggaet sejumlah pemain berkelas macam
Sergio Aguero, Samir Nasri, dan Gael Clichy musim panas lalu.
Skuad
ManCity pun kian disesaki pemain bintang yang sebelumnya telah
berkostum Manchester Biru seperti David Silva, Yaya Toure, Edin Dzeko,
Mario Balotelli, dan Carlos Tevez.
Bandingkan dengan MU yang
menghabiskan uang belanja pemain sebesar €57 juta, atau €23 juta lebih
sedikit dari ManCity. Di awal musim, MU hanya menambah tiga amunisi baru
yaitu David De Gea, Phil Jones, dan Ashley Young.
Mencermati
komparasi tersebut, terlepas dari prespektif negatif tentang pertanyaan
ManCity sukses membeli gelar, kenyataanya pemain bintang yang dimiliki
ManCity memudahkan kerja sang pelatih menyusun tim inti 'impiannya'
Teori
ini pun diamini oleh Ferguson. Dengan catatan, Mancini mampu mengelola
skuad dengan baik agar tetap tampil kompetitif."Tentu saja, Mancini
memiliki keuntungan finansial besar. Tetapi Anda harus menempatkan tim
di lapangan dan memilih pemain yang tepat."
"Membuat semua orang
merasa telah memainkan peran tidak-lah mudah dalam permainan modern.
Memenangkan liga merupakan langkah besar untuk ke Mancini ke depan,"
ujarnya.
Diganggu isu ketidakharmonisanKendati
bertabur bintang, bukan berarti Mancini bebas kendala. Faktnya, ia
menghadapi rintangan besar menjaga konsentrasi timnya dari masalah
non-teknis. Mancini sempat terlibat perseteruan dengan dua pemainnya,
Carlos Tevez dan Mario Balotelli.
Perseturuan antar Tevez dan
Mancini paling banyak mendapat sorotan setelah sang pemain menolak
diturunkan saat ManCity berhadapan dengan Bayern Munich di fase
penyisihan grup Liga Champions.
Walau berseteru, nyatanya Tevez
tetap bagian integral ManCity. Berulang kali Tevez minta dilepas klub,
tapi Mancini tidak mengizinkannya pergi. Pembicaraan dari hati ke hati,
membuat Tevez akhirnya luluh dan bertahan.
"Dia masih terikat
kontrak dan seorang pemain bagus. Tidak, saya tidak berpikir seperti itu
(melepasnya). Ini merupakan situasi yang aneh dalam 6 bulan lalu. Saya
berkata pada Tevez beberapa kali, meminta maaf, dan itu selesai. Tevez
tak ingin meninggalkan klub," ujarnya kala itu
Tidak hanya dengan Tevez, Mancini pun dilanda frustasi dengan ulah
Balotelli yang kerap berbuat onar. Sudah tidak terhitung, berapa kali ia
beradu argumen dengan mantan anak asuhnya di Inter Milan itu. Sempat
terpikirkan, melepas Balotelli. Namun pelatih yang pernah memperkuat
Lazio dan Sampdoria itu memberikan kesempatan dan memaafkannya.
"Balotelli harus mengubah perilakunya. Saya senang dengan niatnya,
namun jika mau bertahan dia harus mengubah sikap mental," katanya.
Sekali
lagi, Mancini mampu melewati sandungan besar untuk menuntun ManCity
menjadi yang terbaik di Premier League. Ia sukses menyisihkan ego demi
kepentingan yang lebih besar, yaitu menjaga keutuhan skuad. Pendekatan
intrapersonal dengan pemainya mampu memberikan hawa positif di dalam
tim.
Selesai sudah pertarungan mendebarkan Premier League edisi 2011-12.
'Si tetangga berisik' keluar menjadi yang terbaik hingga menit terakhir.
Kegaduhannya memaksa MU harus menangguhkan gelar ke-20 yang sudah di
depan mata.