Jakarta
Proses identifikasi terhadap jasad korban Sukhoi
SuperJet 100 yang jatuh di Gunung Salak terus berlangsung. Kerabat salah
seorang korban, Kornel Sihombing, berharap proses identifikasi terhadap
jasad korban Sukhoi bisa selesai secepatnya.
"Jadi kami tetap
berharap secepatnya, biar keluarga tidak simpang siur," ujar kerabat
Kornel, Komara, di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin
(14/5/2012).
Komara mendatangi RS Polri untuk menemani anak
tertua Kornel, Qarin (12), untuk melengkapi kekurangan tes DNA. Keduanya
tiba di RS Polri pukul 18.00 WIB.
Komara mengatakan pihak
keluarga Kornel masih menunggu informasi yang pasti dari pihak Polri.
Kepastian informasi tentang Kornel yang diterima pihak keluarga, kata
Komara, untuk menghilangkan kesimpangsiuran.
Sementara itu,
Qarin mengatakan dirinya hanya dimintai sampel air liur oleh petugas
identifikasi untuk lebih memastikan DNA. Qarin mengungkapkan terakhir
bertemu ayahnya sebelum berangkat sekolah pada Rabu (9/5) pagi.
"Papa saya pergi sebelum saya pergi sekolah. Jadi belum ketemu lagi. Kalau mamah ada di Bandung," tutur Qarin.
Kornel
M Sihombing (48) adalah salah seorang penumpang Sukhoi SuperJet 100
yang menabrak tebing di Gunung Salak, Jawa Barat. Kornel merupakan
Kepala Divisi Integrasi Usaha PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Dia ikut
terbang karena ditunjuk perusahaannya, untuk penjajakan kerja sama
antara PT DI dan Sukhoi.
Hingga kini Disaster Victim
Identification (DVI) RS Polri Kramatjati telah menerima sekitar 25
kantong jenazah korban Sukhoi, 4 kantong di antaranya berisi
barang-barang korban. DVI RS Polri menyatakan proses identifikasi
jenazah korban Sukhoi SuperJet 100 diperkirakan baru bisa selesai dalam
waktu 2 minggu.
(rmd/vit)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar